Penanganan Limbah Medis Covid-19 dan Daur Ulang Limbah Medis Fasyankes Ramah Lingkungan
Febrero 15, 2023
Elanda Fikri

Metrics

  • Eye Icon 13 views
  • Download Icon 0 downloads
Metrics Icon 13 views  //  0 downloads
Penanganan Limbah Medis Covid\u002D19 dan Daur Ulang Limbah Medis Fasyankes Ramah Lingkungan Image
Abstract

Seluruh Negara di dunia dan khususnya Indonesia pada saat ini menghadapi situasi pandemi virus corona atau lebih dikenal dengan Covid-19. Pencegahan dan pengendalian dari Covid-19 tidak dapat dilepaskan dari adanya kondisi lingkungan hidup. Semakin bagus dan baik kualitas lingkungan hidup maka semakin bagus dan baik pula ketangguhan diri, keluarga dan imunitas dalam tubuh. Salah satunya adalah faktor lingkungan merupakan faktor utama dalam penyebaran.
Covid -19 berdampak pada meningkatnya jumlah limbah medis sehingga membebani fasilitas pelayanan Kesehatan. Pada bulan Maret 2020 limbah medis di Malaysia meningkat sebesar 10% dari bulan sebelumnya, di Jakarta meningkat 30%, sedangkan di Kota Wuhan China terjadi peningkatan dari 40 ton menjadi 240 ton per hari. Timbulan limbah yang dihasilkan dari fasilitas pelayanan kesehatan yang terdiri 2.900 rumah sakit, 10.062 puskesmas, 8.841 klinik, laboratorium kesehatan, 26.418 Apotek, unit transfusi darah, optikal menghasilkan timbulan limbah 456,18 ton/hari dari limbah tersebut sebanyak 384,120 ton/hari dikelola oleh jasa pihak ke-3 (tiga) pengolah limbah dan sebanyak 71,53 ton/hari dikelola sendiri oleh 111 rumah sakit yang memiliki izin incinerator, 2 autoclave rumah sakit yang berizin dan 6 autoclave rumah sakit yang masih memproses izin outoclave. Dari data tersebut masih terdapat selisih timbulan limbah dengan kapasitas pengolah limbah sebanyak 0,5 ton/hari.
Penanganan limbah medis Covid-19 perlu ditangani secara serius. Penelitian membuktikan bahwa penyebab Covid-19, Virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), bisa bertahan dalam kondisi (suhu dan kelembaban) tertentu. Butuh waktu beberapa hari bagi virus tersebut untuk tidak aktif menulari manusia, tergantung pada jenis material permukaan medis hidupnya. Namum, dengan proses desinfeksi standar (penggunaan sabun, desinfektan atau dengan pemanasan) virus tersebut akan mudah untuk tidak aktif atau dengan kata lain tidak menular. Mengingat besarnya dampak negatif limbah B3 yang ditimbulkan maka penanganan limbah B3 harus dilakukan secara tepat sesuai dengan peraturan dimulai dari tahap pemilahan tahap pewadahan, tahap pengangkutan, tahap penyimpanan sementara sampai dengan tahap pengolahan. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu kiranya untuk menyusun Sistem Pengelolaan Limbah Medis Padat Covid-19 sehingga tidak menimbulkan risiko terhadap pekerja ataupun terhadap lingkungan yang berada di sekitar pelayanan kesehatan itu sendiri.
Buku referensi ini dibuat dalam rangka menjawab permasalahan tersebut ditambah dengan penanganan limbah medis fasyankes ramah lingkungan (daur ulang limbah medis). Materinya disusun dan dibahas dengan sederhana agar mudah dipahami dan dapat diaplikasikan mulai dari kalangan praktisi, mahasiswa, akademisi maupun masyarakat umum. Dalam buku ini juga setiap topik yang dibahas tersusun secara sistematis dan ringkas. Selain itu, dilengkapi dengan instrumen observasi dalam tata laksana penanganan limbah medis Covid-19.

Full text
Show more arrow
 
More from this repository
Flebotomi
Flebotomi Image
Pencegahan Kanker Payudara dengan Model Intervensi Group Medical Consultation
Pencegahan Kanker Payudara dengan Model Intervensi Group Medical Consultation Image
🧐  Browse all from this repository

Metrics

  • Eye Icon 13 views
  • Download Icon 0 downloads
Metrics Icon 13 views  //  0 downloads