Pancasila dan Suara Arus Bawah
Февраль 3, 2022
Adzkiyak Adzkiyak

Metrics

  • Eye Icon 0 views
  • Download Icon 0 downloads
Metrics Icon 0 views  //  0 downloads
Abstract

Sawah berukuran sekitar 0,2 Ha, ini tempat mengantungkan hidup saya sekeluarga. Meskipun petani selalu menghadapi kesulitan pupuk ketika musim tanam, harga panen yang selalu dihargai rendah oleh tengkulak, bahkan ketika saluran irigasi yang dimatikan oleh keserakahan pengembang properti, tapi saya tetap berusaha mempertahankan sawah ini untuk tidak dijual. Pengalaman pahit saya ini juga dirasakan sebagian besar petani di Indonesia. Sebagai petani kecil dengan sawah sempit itu serba susah, ditanami biaya produksi tinggi, hasilnya sedikit dan pasti rugi, dibiarkan tidak ditanami lahan terlantar. Inilah nasib petani sekarang. Meskipun nasib petani selalu menderita di negeri ini, tapi loyalitas saya pada Pancasila jangan diragukan. Saya yakin nilai Pancasila jauh lebih luhur daripada perilaku penyelenggara negara di republik ini (Parto, petani di pedesaan Jawa).

Saya menggantungkan hidup dari perahu hasil pinjaman pada pengambek dengan kesepakatan harus menjual hasil tangkapan ikan kepadanya dengan resiko harga ikan harus dipotong sebagai bentuk ikatan. Meskipun ikan yang saya jual harganya dipotong, itu tidak akan pernah mengurangi pinjaman kepada pengambek. Di negeri yang bangga sebagai bangsa bahari ini nasib nelayan menunggak hutang sepanjang hidupnya. Meskipun sektor ekonomi perikanan sebagai cermin ekonomi Pancasila tetapi seringkali diabaikan oleh negara. (Samino, nelayan di pesisir selatan Jawa).

Nasib kaum buruh perkebunan seperti saya ini sangat memprihatinkan. Sebagai buruh, saya sekeluarga tinggal di perumahan perkebunan (persil) warisan kolonial dengan ukuran 3m x 4m. Upah yang saya terima jauh dibawah UMK, tapi sebagai buruh saya harus menerima semua ini sebagai taqdir. Perusahaan perkebunan adalah sebuah enklave negara dalam negara. Perusahaan perkebunan bisa membuat aturan sesuka mereka tanpa memperhatikan kondisi buruh. Saya menyakini perlakuan perusahaan perkebunan pada buruh ini jauh menyimpang dari spirit ekonomi kerakyatan Pancasila (Parmin, buruh perkebunan).

Pekerjaan di kampung saya sangat terbatas, banyak pengangguran, sehingga banyak warga merantau. Niat saya bekerja ke luar negeri adalah memperbaiki kondisi ekonomi keluarga saya. Sebagai tulang punggung keluarga saya bertanggungjawab atas kebutuhan ekonomi anak dan istri. Tetapi harapan saya jauh dari kenyataan, apa yang saya impikan justru berbanding balik dari apa yang saya alami. Saya diperlakukan kurang manusiawi oleh majikan dan gaji saya tidak dibayarkan. Perusahaan yang memberangkatkan saya juga tidak bertanggungjawab. Nasib TKI seperti saya ini jauh dari kehadiran negara. Meskipun Pancasila semangatnya adalah menyejahterakan kehidupan rakyat (Samlan, seorang TKI).

Full text
Show more arrow
 
More from this repository
KOMUNIKASI BISNIS (Tinjauan Konsep Dasar)
Teknik Produksi Budidaya Ikan Air Tawar Nila dan Patin
🧐  Browse all from this repository

Metrics

  • Eye Icon 0 views
  • Download Icon 0 downloads
Metrics Icon 0 views  //  0 downloads